Posts tonen met het label organisasi. Alle posts tonen
Posts tonen met het label organisasi. Alle posts tonen
Published maart 30, 2023 by Jagoan website

JUDUL SKRIPSI PERANCANGAN 3D MODELING DAN RINGGING KUPU- KUPU SEBAGAI ASET WISATA TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG

 PERANCANGAN 3D MODELING DAN RINGGING KUPU-

KUPU SEBAGAI ASET WISATA TAMAN NASIONAL 

BANTIMURUNG BULUSARAUNG

JUDUL HALAMAN

 

ANDI RIZALDI PRATAMA

13120180019

PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI

FAKULTAS ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2022

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan keindahan sebagai potensi alam untuk dijadikan sumber belajar 

yang ada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung atau sering disebut TN 

Babul adalah satu-satunya kawasan pelestarian alam untuk perlindungan bentang 

alam karst di Indonesia. Terletak di lokasi pada Sulawesi Selatan tepatnya di 

wilayah Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), telah 

ditetapkan pemerintah sebagai salah satu wilayah pelestarian kupu-kupu. TN 

Babul ini di dirikan pada tahun 2004 melalui Surat Keputusan dari Menteri 

Kehutanan No. SK.398/Menhut-II/2004. Taman Nasional Bantimurung 

Bulusaraung memiliki luas lahan ± 43.750 Ha, terdapat kawasan habitat kupu-

kupu yang termasuk kedalam Bioregion Wallace yang secara geologis yang 

menjadi habitat campuran antara Oriental dan Australia. Menurut Wallace (1856) 

tercatat setidaknya 247 jenis kupu-kupu di kawasan ini sehingga kawasan ini 

dijuluki The Kingdom Of Butterfly [1].

Kawasan TN Babul sangat banyak terdapat keanekaragaman jenis, sehingga 

menarik untuk diteliti serta dapat dijadikan sumber belajar. Potensi yang 

dikembangkan di TN Babul adalah kupu-kupu [2]. Kupu-kupu adalah kelompok 

serangga yang berasal dari super family Papilionoidea dengan ciri khas warna 

sayap yang cerah dan bentuk tubuh panjang dan langsing. Keindahan kupu-kupu 

yang cantik dan unik menjadikannya diminati banyak kolektor [3]. Penagkapan 

kupu-kupu yang tidak terkendali dapat menjadi ancaman tersendiri bagi eksistensi 

kupu-kupu di alam bebas . 

Ancaman tersebut menjadi salah satu faktor yang mendasari pemerintah 

menetapkan beberapa jenis kupu-kupu sebagai satwa liar yang dilindungi. 

Preraturan ini telah direvisi dengan dikeluarkannya Peraturan Mentri Lingkungan 

Hidup dan Kehutanan No.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis 

tumbuhan dan satwa yang dilindungi, dengan adanya aturan baru tersebut maka 

jumlah jenis kupu-kupu yang dilindungi bertambah menjadi 5 jenis yaitu Cethosi

Amyrina, Troides Haliphron, T.Helena, T.Hipolytus dan Trioides 

Oblongomaculatus sebagai jenis kupu-kupu yang dilindungi. Mendukung upaya 

perlindungan spesies kupu-kupu, peredaran jenis kupu-kupu diatur sesuai 

peraturan perundangan yang berlaku. Penerbitan penangkapan, peredaran, dan 

penjualan kupu-kupu di kawasan Bantimurung dan sekitarnya merupakan bagian 

dari kegiatan pengamanan dan perlindungan kawasan. Upaya konservasi tidak 

akan lengkap tampa ada dukungan dari pihak, terutama masyarakat setempat.

Hasil survei dan wawancara kepada bapak Tajuddin mengatakan 

tereksposnya kekayaan dan keindahan alam Bantimurung telah mengundang 

banyak minat masyarakat luas. Sehingga, kupu-kupu menjadi bahan baku 

pembuatan souvenir yang diperjualbelikan sebagai cindra mata seperti gantungan 

kunci, bingkai pajangan, pin, hingga aksesoris smartphone. Namun, semakin 

banyak orang-orang ramai berwisata ke Bantimurung, habitat asli kupu-kupu 

mulai tidak terlihat berterbangan disekitar TN Babul. Kawasan kupu-kupu yang 

menjadi ikon khas di Bantimurung juga sudah mulai mendekati kepunahan karena 

semakin banyak usaha perdagangan souvenir kupu-kupu yang diawetkan.

Penelitian [4] mengkaji aspek sosiopsikologis perilaku pembelian souvenir 

yang bahkan terjadi pada spesies kupu-kupu yang dilindungi di TB Babul. 

Pengunjung dapat mempengaruhi keberlanjutan wisata mupun populasi kupu-

kupu. Hal ini terkait dengan pengetahuan/peraturan tentang satwa yang dilindungi, 

sebanyak 73,8% responden wisatawan mengaku tidak mengetahui adanya 

peraturan yang melarang penangkapan kupu-kupu dilindungi. Demikian pula 

80,7% responden pedagang souvenir mengaku tidak mengetahui peraturan yang 

melarang perdagangan kupu-kupu. Sayangnya, tidak ada informasi yang diakses 

di taman mengenai tindakan hukum yang diambil untuk melestarikan kupu-kupu. 

Belum masksimalnya penyebaran informasi kupu-kupu sebagai satwa liar 

yang dilindungi di TN Babul. Banyaknya usaha perdagangan souvenir dan 

membengkaknya jumlah pengunjung membuat kupu-kupu berada pada titik 

kepunahan. Hal ini, kurangnya informasi yang didapat oleh wisatawan dan 

pedagang souvenir yang dilindungi dapat di perjualbelikan [5]. 

Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis membuat penelitian dengan 

judul “Perancangan 3D Modeling Dan Rigging Kupu-Kupu Sebagai Aset Wisata 

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung”. Hasil yang diharapkan penelitian ini 

yaitu membuat asset 3D kupu-kupu yang tergolong satwa liar dilindungi. 

Memanfaatkan asset 3D sebagai penyebaran informasi kepada wisatawan dan 

pedangan souvenir kupu-kupu. Oleh karena itu, TN Babul harus membangun 

praktik manajemen pengunjung untuk mengamankan pariwisata, termasuk 

kegiatan perdagangan kupu-kupu untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi, 

dengan tetap menjaga populasi kupu-kupu dan kelesterian lingkungan. 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka terdapat beberapa rumusan masalah yaitu:

1. Bagaimana membuat Perancangan 3D Modeling Dan Ringging Kupu-Kupu 

Sebagai Aset Wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung?

2. Bagaimana menerapkan metode 3D Modeling Dan Ringging dalam pembuatan 

aset kupu-kupu pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang dapat disimpulkan berdasarkan rumusan masalah 

adalah sebagai berikut:

1. Memudahkan proses pembuatan asset kupu-kupu 3D sehingga dapat 

menampilkan objek 3D secara virtual. 

2. Penilaian yang dilakukan wisatawan untuk mendapatkan hasil tampilan objek 

3D yang bersifat subjektif dengan menggunakan metode 3D Modeling Dan 

Ringging.

D. Batasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang diatas dalam penelitian ini, maka 

penulis memberikan batasan yaitu:

1. Menggunakan aplikasi Blender sebagai peranglunak pembuatan animasi 3D.

2. Proses Modeling dan Rigging menggunakan Animal Metarig yang tersedia pada 

Blender. 

3. Gerakan yang diimplementasikan adalah gerakan dasar yang dilakukan seperti 

terbang dan hinggap di bunga. 

E. Manfat Penelitian

1. Manfaat Bagi Penulis

Menambah, mengembangkan wawasan keilmuan dan meningkatkan 

pemahaman terhadap pentingnya pengembangan teknologi. Serta dapat 

mengimplementasikan pengetahuan, skill dan inovasi yang telah didapatkan di 

bangku perkuliahan sehingga menjadi mahasiswa aktif, kreatif dan inovatif 

yang peka terhadap masalah pada lingkungan sekitar.

2. Manfaat Bagi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Menjawab permasalahan yang dihadapi serta dapat memberikan 

kemudahan dalam melakukan promosi penyebaran sistem informasi kepada 

wisatawan. Perancangan aset 3D kupu-kupu diharapkan dapat menjadi solusi 

alternatif dan dapat diimplementasikan saat promosi wisata dan presentasi di 

luar kota, daerah dan negara sehingga tidak membawa kupu-kupu bentuk nyata 

tetapi membawa objek kupu-kupu 3D virtual.

3. Manfaat Bagi Dunia Akademik

Menjadi sumbangsi kapada mahasiswa secara umum dan terkhusus di 

Universitas Muslim Indonesia. Menambah referensi dan literatur sebagai bahan 

penelitian lanjutan dimasa yang akan datang serta sebagai bahan tolak ukur 

kemampuan mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu.

BAB II LANDASAN TEORi

A. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian Terkait

Semakin menurunnya populasi badak dan harimau di Indonesia menjadi 

perhatian serius dari pemerhati lingkungan. Hasil yang dicapai penulis berhasil 

membuat dua desain karakter uang terdiri dari karakter Baja yang berupa badak 

gemuk dan karakter Matra kecil dan imut. Manfaat dari desain karakter dan 

rigging sebagai media yang dapat meningkatkan popularitas satwa Badak Jawa 

dan Harimau Sumatera, selain itu juga dapat menambah pengetahuan tentang 

cara mendesain dan me-rigging karakter 3D [6].

Perancangan modelling dan animasi 3D interior rumah ini menggunakan 

software 3Ds Max untuk merancang rumah dan pembuatan animasi, sedangkan 

untuk software Wondershare Filmora berfungsi untuk mengedit video dan 

pemberian sound animasi agar lebih menarik. Pembuatan animasi 3D harus 

diperlukan desain objek yang teliti agar sesuai denah rancangan untuk 

menghasilkan animasi yang sesuai storyboard. Hasil perancangan modelling

dan animasi 3D interior rumah menggunakan aplikasi 3Ds max ini dapat 

membantu masyarakat mencari referensi rumah menjadi lebih menarik [7].

Pembuatan animasi 3D terdapat proses yang disebut rigging. 

Menggunakan sepuluh karakter dan beberapa gerakan sebagai bahan pengujian. 

Metode pengujian yang digunakan terdiri dari jumlah keyframe yang dipakai 

dalam membuat sebuah gerakan, jumlah objek yang diberikan keyframe dan 

waktu yang dibutuhkan dalam membuat sebuah gerakan. Hasil dari pengujian 

membuktikan bahwa karakter yang menggunakan rigging dapat membuat 

proses animating menjadi lebih efektif [8].

Dalam Ringging karakter, penting mengutahui stuktur tulang yang akan 

disusun, sebagai penganimasian baik manual maupun motion capture. 

Percancangan rigging karakter khusus saat pra produksi, agar saat produksi 

dapat jalankan dengan baik. Mempelajari merancang/membangun sebuah 

rigging karakter untuk motion capture yang baik yang dapat digerakkan 

menjadi sebuah animate yang terlihat nyata [9]. 

Efek visual dalam proses terkomputerisasi dimana gambar atau model 

objek dibuat dan dimanipulasi yang melibatkan pembuatan efek suara digiral 

dan khusus komputer. Model 3D yang diberi VFX akan memberikan tampilan 

visual yang terlihat nyara. Salah satu VTX yang paling banyak digunakan 

adalah air, termasuk bangunan, perpedikan air, dan air terjun dimana VFX yang 

mendukung lingkungan karakter [10].

2. Landasan Teori

a. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah kawasan 

konservasi benteng terakhir pelestarian keanekaragaman hayati dan 

ekosistemnya. Melestarikan kekayaan floura dan fauna adalah wujud 

nyata. Mengelolah kawasan konservasi tidak akan lepas dari mengelolah 

kekayaan TN Babul memeiliki benteng alam karst yang kaya akan 

keragaman hayati. Ekosistem unik di huni oleh ratusan spesies kupu-kupu.

The Kingdom of Butterfly julukan ini selalu identik dengan 

Bantimurung. Kupu-kupu adalah kelompok serangga yang tergolong ke 

dalam bangsa Lepidoptera berarti kelompok serangga yang bersayap sisik. 

Susunan sisik-sisik ini yang menjadi corak dan warna dari kupu-kupu [11]. 

Jenis kupu-kupu yang di lindungi yaitu:

Tabel 1. Satwa Liar (Kupu-Kupu) Dilindungi


b. Modeling

Modeling merupakan langkah awal dari tahap produksi yang 

membuat model objek modeling. Dalam modeling dikenal istilah poligon 

mesh modeling yang merupakan tahap membuat bentuk dengan 

memodifikasi letak point atau segmen dari sebuah objek yang terbentuk 

dari polygon mesh [12]. Proses modeling bertujuan untuk membentuk 

ukuran dan bentuk objek supaya terlihat secara visual. Di dalam software

Blender, modeling objek dilakukan pada Edit Mode dengan bantuan 

beberapa fungsi, seperti extrude, pemberian skala, dan grab kemudian 

dapat ditambah modifier Mirror maupun Subdivision Surface untuk 

membentuk objek sesuai keinginan pembuatnya [13].

c. Regging

Ringging merupakan komponen yang penting sebagai pembuatan 

animasi, karena adanya rigging 3D animasi tidak bisa di kontrol untuk di 

gerakkan mulai dari strong pose menjadi beetwen. Tahap Rigging adalah 

proses pemberian controller dengan tujuan untuk mempermudah proses 

animating. Controller biasanya berupa edges [14]. 

Rigging adalah proses atau teknik yang digunakan dalam komputer 

grafis sebagai penghubung antara modeling dan animasi. Pada Teknik 

rigging, terdapat proses modeling dimana serangkaian alat digunakan 

untuk membangun objek animasi yang bertujuan untuk memanipulasi 

geometri virtual menjadi bentuk tertentu. Selanjutnya, tahap rigging

dilakukan dan dihubungkan dengan objek geometri. Unsur- unsur ini yang 

memungkinkan animator untuk memanipulasi atau menyerupai bentuk dan 

posisi objek geometri [15].

d. Blender

Blender adalah perangkat kreasi 3D yang bersifat gratis dan open 

source. Blender mendukung seluruh alur kerja 3D seperti modeling, 

rigging, animasi simulasi, rendering compositing dan motion tracking, 

bahkan pengeditan video dan pembuatan game [16]. Blender sangat cocok 

digunakan digunakan oleh perseorangan maupun studio kecil yang bermanfaat dalam proyek 3D. Perangkat luanak yang digunakan untuk 

membuat film animasi, efek visual, model cetak 3D, aplikasi 3D interaktif 

dan permainan video. Hasil program dapat digunakan di komputer lain 

walaupun tidak menginstall aplikasi blender terlebih dahulu [17].

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tahapan Penelitian


Gambar 2. Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian terdiri atas 5 tahapan yaitu analisis kebutuhan 
(kebutuhan perangkat lunak, kebutuhan perangkat keras, dan kebutuhan 
informasi), pengumpulan data (survei dan wawancara, literatur view, teknik 
dokumenter), analisis data, perencanaan sistem (tahapan pra-produksi, produksi 
dan tahapan pasca produksi), implementasi dan pengujian. Berikut penjelasan dari 
tahapan-tahapan penelitian:
1. Analisis Kebutuhan
a. Kebutuhan Perangkat Keras
1) Laptop
2) Processor Intel Core i5 Generasi 10.
3) RAM 8 GB.
4) Camera
b. Kebutuhan Perangkat Lunak
1) Microsoft Windows 10 Professional 64-bit, sebagai sistem operasi.
2) Browser Google Chrome versi 94.0.4606.71, digunakan untuk 
terhubung ke phpmyadmin untuk mengakses web server pada aplikasi 
dan admin.
3) Blender versi 3.0. digunakan sebagai desain asset 3D

c. Kebutuhan Informasi 

Data primer yang dibutuhkan dari kawasan wisata TN Babul yang 

terdaftar yang terdaftar kupu-kupu sebagai satwa liar yang dilindungi. 

Sedangkan data sekunder yang dibutuhkan penelitian yang relevan terkait 

penelitian sebelumnya. Maka hasil dari pengumpulan data ini dapat 

digunakan sebagai bahan untuk membuat desain asset kupu-kupu dan alur 

pelaksanaan kegiatan.

2. Pengumpulan Data

a. Survei dan wawancara

Pada metode didapatkan data secara langsung mengenai profil dan 

kondisi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Melaui dalam survei 

kepada bapak Tajuddin, wisatawan dan penjual souvenir mengamati proses 

penjualbelian kupu-kupu termasuk satwa yang dilindungi dengan alasan 

harga yang diperjualbelikan sangat tinggi. Kurangnya pengetahuan satwa 

liar yang dilindungi dan tidak ada pemberitahuan secara ilegal penjualan 

kupu-kupu tetapi jika terus berlanjut maka satwa liar yang dilindungi akan 

terancam punah. Sehingga dibutuhkan penyebaran informasi objek 3D 

satwa yang dilindungi sehingga wisatawan tidak membeli dan pedangan 

tidak memperdagangkan lagi satwa tang dilindungi. 

b. Studi Literatur

Pada tahapan ini, penulis menelusuri dan membuat data primer untuk 

mencatat problem di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Peneliti 

menelusuri sumber-sumber tulisan yang pernah dibuat sebelumnya atau 

mencari referensi teori yang relevan dengan kasus dan permasalahan yang 

telah ditemukan. Hasil dari studi literatur dapat dijadikan acuan untuk 

membuat Perancangan 3D Modeling dan Rigging Kupu-Kupu sebagai 

Asset Wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 

c. Teknik Dokumenter

Metode ini merupakan teknik pengumpulan data dengan 

mengumpulkan data relevan dengan masalah terkait yang diteliti. Secara 

teknis, penulis mengumpulkan data diperoleh pada institusi bersangkutan.


Read More
Published december 30, 2020 by Jagoan website

Materi Persidangan Lengkap

 


Apa Pengertian Persidangan?

Sidang merupakan forum formal suatu organisasi guna membahas masalah tertentu dalam upaya menghasilkan keputusan, yang akan menjadi sebuah ketetapan dan aturan-aturan yang jelas.

Keputusan dari persidangan ini akan mengikat seluruh elemen organisasi selama belum diadakan perubahan. Keputusan ini sifatnya final, sehingga berlaku bagi pihak yang setuju maupun tidak setuju, hadir atau tidak hadir dalam persidangan.

Unsur-unsur persidangan:

1. Presidium sidang

        Presidium sidang dipilih dari dan oleh peserta melalui Sidang Pleno yang dipandu oleh Panitia                Pengarah (Steering Committee).

        Presidium Sidang bertugas untuk memimpin dan mengatur jalannya sidang seperti aturan yang                disepakati bersama.

        Presidium Sidang berkuasa untuk memimpin dan menjalankan tata tertib persidangan.

2. Peserta sidang

        Peserta sidang ditentukan berdasarkan tata tertib yang telah di sepakati

        Peserta sidang biasanya tediri dari peserta aktif, pasif dan peninjau

        Hak dan kewajiban peserta:

i. Hak Peserta Penuh

    1. Hak Bicara, yaitu hak untuk bertanya, mengeluarkan pendapat, mengajukan usulan kepada                     pimpinan sidang, baik secara lisan maupun secara tulisan.

    2. Hak Suara, yaitu hak untuk ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan.

    3. Hak Memilih, yaitu hak untuk menentukan pilihan dalam proses pemilihan.

    4. Hak Dipilih, yaitu hak untuk dipilih dalam proses pemilihan

ii. Hak Peserta Peninjau.

    1. Hak yang dimiliki oleh peserta peninjau hanyalah hak bicara

iii. Kewajiban peserta penuh dan peninjau

    1. Menaati tata tertib persidangan/permusyawaratan.

    2. Menjaga ketenangan persidangan.

    3. Berpartisipasi dalam mencari penyelesaian permasalahan yang di bicarakan dan ikut serta ikut                menyumbang buah fikiran yang positif dan bermanfaat

3. Notulen sidang

    Notulen sidang bertugas untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi pada rapat.

    Notulen sidang dipilih dari dan oleh peserta melalui Sidang Pleno yang dipandu oleh Panitia                Pengarah (Steering Committee).

4. Tata Tertib

    Tata tertib persidangan merupakan hasil kesepakatan seluruh peserta pada saat sidang dengan                 memperhatikan aturan umum organisasi dan nilai-nilai universal dalam masyarakat.

5. Sanksi

    Peserta yang tidak memenuhi persyaratan dan kewajiban yang ditentukan dalam tata tertib                     persidangan akan dikenakan sanksi dengan mempertimbangkan saran dan usulan peserta

Istilah-istilah dalam Persidangan

1. Pending, yaitu menghentikan sidang sejenak dikarenakan terdapat kendala tekhnis atau prinsip.

2. Skorsing, yaitu menghentikan sidang sejenak untuk melakukan lobying, dikarenakan sulitnya mencapai kesepakatan antarpeserta sidang yang berseteru.

3. Lobying, yaitu proses diskusi antarpeserta sidang di luar pengaturan pimpinan sidang.

4. Pencerahan, yaitu upaya peserta sidang untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara peserta sidang yang lain.

5. Voting, yaitu proses pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak setelah jalan musyawarah mengalami kebuntuan.

6. Deadlock, adalah kondisi dimana musyawarah tidak menemukan kata sepakat.

7. Walkout, yaitu saat dimana peserta sidang keluar ruangan dengan alasan tidak menyetujui keputusan sidang.

8. Quorum, yaitu syarat jumlah peserta sidang dimulai, agar keputusan dapat dianggap sah.

9. Interupsi, yaitu memotong pembicaraan orang lain.

10. Prosidang, yaitu hasil ketetapan sidang/musyawarah yang telah dibukukan (tertulis).

11. Konsideran, yaitu proses menimbang dalam menetapkan putusan sidang.

12. PK/Peninjauan Kemballi, yaitu me-review keputusan yang telah disepakati untuk melakukan perbaikan atau perubahan.

13. Opsi, yaitu usulan/pendapat yang dikemukakan oleh peserta sidang untuk mendapatkan suatu keputusan.

14. Afirmasi, adalah pendapat yang di sampaikan oleh peserta sidang untuk memperkuat pendapat yang telah di kemukakan sebelumnya.

15. Rasionalisai, adalah argumentasi yang dilontarkan oleh peserta untuk memberikan penjelasan logis terhadap pendapatnya.

Aturan Ketuk Palu

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan penggunaan palu sidang berkaitan dengan jumlah ketukannya.

1. Satu Kali Ketukan

a. Menerima dan menyerahkan pimpinan sidang

b. Mengesahkan keputusan poin perpoin (keputusan sementara);

c. Menskorsing dan mencabut kembali skorsing yang waktunya tidak terlalu lama, sehingga peserta tidak perlu meninggalkan tempat sidang;

d. Mencabut kembali/membatalkan ketukan terdahulu yang dianggap keliru.

e. Memberi peringatan kepada peserta sidang.

2. Dua Kali Ketukan

a. Menskorsing atau mencabut kembali skorsing dalam waktu yang cukup lama, misalnya untuk lobbying, istrahat dan sebagainya yang waktunya 2 x 15 menit, dan sebagainya

3. Tiga Kali Ketukan

a. Membuka atau menutup sidang secara resmi

b. Mengesahkan putusan final atau akhir sidang.

4. Ketukan Berulang-ulang

a. Menenangkan peserta sidang atau forum.

Jenis-Jenis Sidang

Ada beberapa jenis persidangan yang dikenal dalam setiap organisasi, yaitu:

1. Sidang Pleno

    Sidang pleno diikuti oleh seluruh peserta dan peninjau;

    Sidang Pleno dipimpin oleh Presidium Sidang;

    Sidang Pleno membahas dan memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan organisasi itu.

2. Sidang Komisi

    Sidang Komisi diikuti oleh anggota masing-masing komisi;

    Anggota masing-masing komisi adalah peserta penuh dan atau peserta peninjau yang ditentukan oleh     Sidang Pleno;

    Sidang Komisi dipimpin oleh seorang pimpinan dibantu oleh Sekretaris Sidang Komisi;

    Pimpinan Sidang Komisi dipilih dari dan oleh anggota komisi dalam komisi tersebut;

    Sidang Komisi membahas materi-materi yang menjadi tugas dari komisi yang bersangkutan.

Alat –alat persidangan

1. Palu Sidang

2. Pengeras Suara

3. LCD Proyektor

Macam-Macam Interupsi (Interruption)

1. Interruption Point of Order

    Dilakukan untuk meminta penjelasan atau memberikan masukan yang berkaitan dengan jalannya             pesidangan. (jika pembahasan melebar atau tidak konsisten).

2. Interruption Point of Clarification

    Dilakukan jika terdapat penyampaian pendapat atau informasi yang butuh klarifikasi, agar tidak             terjadi pendangkapan bias ketika seseorang memberikan tanggapan atau sebuah penegasan terhadap     suatu pernyataan.

3. Interruption Point of Information

    Dilakukan untuk menyampaiakan informasi tambahan yang dianggap membantu maupun informasi         yang sifatnya teknis.

4. Interruption Point of Personal Privilege

    Dilakukan jika terdapat pendapat yang terlalu menyudutkan pihak tertentu diluar substansi                     permasalahan.

5. Interruption of Explanation

Dilakukan untuk menjelaskan suatu pernyataan agar tidak ditanggapi keliru.

Pelaksanaan Interupsi

Interupsi dilaksanakan dengan mengangkat tangan terlebih dahulu, dan berbicara setelah minta izin dari presidium sidang.

Interupsi di atas hanya berlaku selama tidak menggangu persidangan.

Apabila dalam persidangan, Presidium Sidang tidak mampu menguasai dan mengendalikan jalannya persidangan, maka panitia pengarah (SC) diberikan wewenang untuk mengambil alih jalannya persidangan, atas permintaan Presidium Sidang dan/atau Peserta Sidang.

 

Sumber : Kompasiana.com

Read More
Published september 03, 2019 by Jagoan website

Apa itu kaderisasi ?



KADERISASI  ORGANISASI

Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan.
Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”
Dari sini, pandangan umum mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi.
Sedangkan yang kedua adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian lain adalah individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas dan matang secara intelektual dan psikologis.
Sebagai subyek atau pelaku, dalam pengertian yang lebih jelas adalah seorang pemimpin. Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi, pendidikan! Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah Hatta “sekolah-sekolahan”, melainkan dalam pengertian luas. Tugas pertama-tama seorang pemimpin adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa dan etos seorang pendidik.
 Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya. Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka secara intens dalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para pendahulu-pendahulunya.
  
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal kaderisasi adalah potensi dasar sang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya telah dapat dibaca melalui perjalanan hidupnya. Sejauhmana kecenderungannya terhadap problema-problema sosial lingkungannya.
Jadi, di sana ada semacam landasan berfikir atau filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap organisasi/pergerakan. Yaitu: harus ditemukan upaya mencari bibit-bibit unggul dalam kaderisasi. Subyek harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan yang jelas dan memikat, serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang menantang bagi para kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati akan terlibat mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka organisasi atau sebuah pergerakan harus terlebih dahulu mematangkan visi-misi mereka; dan termasuk sikap mereka terhadap persoalan mendesak dan aktual kemasyarakatan; serta pada saat yang sama tersedianya para pengkader yang handal, untuk menggarap bibit-bibit potensial tadi.
Kader-kader potensial, setelah mereka memahami dan meyakini pandangan dan sistem yang telah diinternalisasikan, maka jiwanya akan terpacu untuk bekerja, berkarya dan berkreasi seoptimal mungkin. Maka, di sini, organisasi/pergerakan dituntut untuk dapat mengantisipasi dan menyalurkannya secara positif. Dan memang sepatutnya organisasi/pergerakan mampu melakukannya, karena bukankah yang namanya organsiasi/pergerakan berarti terobsesi progresif bergerak maju dengan satu organisasi yang efisien dan efektif, bukan sebaliknya?
Belakangan ini, sudah dimulai upaya ke arah kaderisasi yang berorientasi pada karya dan aksi sosial dalam level general, berupa penumbuhan dan stimulasi etos intelektual dan sosial. Jadi, bagaimana menggabungkan atau menemukan konvergensi yang ideal antara aktifitas berpikir (belajar) sebagai—entitas mahasiswa—dan aktifitas aksi sosial sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai tekstual-normatif. Dengan kata lain, harus ditemukan titik keseimbangan antara nilai-nilai tekstual-normatif tadi dengan realitas-kontekstualnya.
‘Alâ kulli hâl, tampaknya perlu dicermati kembali urgensi dari kaderisasi berkala yang dilakukan oleh organisasi apapun. Kaderisasi merupakan kebutuhan internal organisasi yang tidak boleh tidak dilakukan. Layaknya sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan pergantian disana. Namun satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya.
Sukses atau tidaknya sebuah institusi organisasi dapat diukur dari kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan. Wallâh-u A’lam Bi al-Shawâb
  
Kenapa Harus Ada Kaderisasi?
Apa yang kamu pikirkan pertama kali ketika mendengar kata kaderisasi?
Adegan pukul-pukulan?
Adegan bentak-bentakkan?
Push up berantai?
Senioritas atau junioritas?
Gelap-gelapan di pedalaman gunung atau hutan?
Berjalan jauh?
Atau malah merangkak?
Ditutup matanya di pemakaman sendirian?
Wah, serem-serem banget! Itu sih bukan kaderisasi, melainkan sebuah balas dendam kakak tingkat karena dahulu dia pernah merasakan ketegangan itu… ^^ *pis ah*
Lupain dulu deh, yang gitu-gitu. Coba yuk, kita lihat lebih dekat, apa itu kaderisasi dan kenapa harus ada?
  
Peran kaderisasi:
1.      Pewarisan nilai-nilai organisasi yang baik 
Proses transfer nilai adalah suatu proses untuk memindahkan sesuatu (nilai) dari satu  orang keorang lain (definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia). Nilai-nilai ini bisa berupa hal-hal yang tertulis atau yang sudah tercantum dalam aturan-aturan organisasi (seperti Konsepsi, AD ART, dan aturan-aturan lainnya) maupun nilai yang tidak tertulis atau budaya-budaya baik yang terdapat dalam organisasi (misalnya budaya diskusi) maupun kondisi-kondisi terbaru yang menjadi kebutuhan dan keharusan untuk ditransfer.

2. Penjamin keberlangsungan organisasi 
Organisasi yang baik adalah organisasi yang mengalir, yang berarti dalam setiap keberjalanan waktu ada generasi yang pergi dan ada generasi yang datang (ga itu-itu aja, ga ngandelin figuritas). Nah, keberlangsungan organisasi dapat dijamin dengan adanya sumber daya manusia yang menggerakan, jika sumber daya manusia tersebut hilang maka dapat dipastikan bahwa organisasinya pun akan mati. Regenerasi berarti proses pergantian dari generasi lama ke generasi baru, yang termasuk di dalamnya adanya pembaruan semangat.

3.      Sarana belajar bagi anggota 
Tempat di mana anggota mendapat pendidikan yang tidak didapat di bangku pendidikan formal.Pendidikan itu sendiri berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam proses mendewasakan manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan di sini mencakup dua hal yaitu pembentukan dan pengembangan. Pembentukan karena dalam kaderisasi terdapat output-output yang ingin dicapai, sehingga setiap individu yang terlibat di dalam dibentuk karakternya sesuai dengan output. Pengembangan karena setiap individu yang terlibat di dalam tidak berangkat dari nol tetapi sudah memiliki karakter dan skill sendiri-sendiri yang terbentuk sejak kecil, kaderisasi memfasilitasi adanya proses pengembangan itu.
Pendidikan yang dimaksudkan di sini terbagi dua yaitu dengan pengajaran (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada karakter) dan pelatihan (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada skill).
Dengan menggunakan kata pendidikan, kaderisasi mengandung konsekuensi adanya pengubahan sikap dan tata laku serta proses mendewasakan. Hal ini sangat terkait erat dengan proses yang akan dijalankan di tataran lapangan, bagaimana menciptakan kaderisasi yang intelek untuk mendekati kesempurnaan pengubahan sikap dan tata laku serta pendewasaan.
  
Posisi Kaderisasi:
1.      Strategis 
Definisi dalam KBBI, rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.Perlu ada perencanaan yang matang dalam organisasi agar tujuannya tercapai, salah satunya adalah kaderisasi yang baik. Bila kaderisasi baik, berarti internal organisasi tersebut baik. Bila internal kaderisasinya sudah baik, semua tujuan organisasi bisa tercapai dan bisa ‘ekspansi’ ke wilayah eksternal.
2.      Vital 
 Ini menunjukkan urgensi dari kaderisasi. Jika, kaderisasi mati, cepat atau lambat organisasi pun akan mati karena organisasi tidak berkembang dan tidak mampu mengaktualisasi dirinya.
  
Fungsi kaderisasi:
1.     Melakukan rekrutmen anggota baru 
     Penanaman awal nilai organisasi agar anggota baru bisa paham dan bergerak menuju tujuan organisasi.
2.      Menjalankan proses pembinaan, penjagaan, dan pengembangan anggota 
      Membina anggota dalam setiap pergerakkannya. Menjaga anggota dalam nilai-nilai organisasi dan memastikan anggota tersebut masih sepaham dan setujuan. Mengembangkan skill dan knowledge anggota agar semakin kontributif.
3. Menyediakan sarana untuk pemberdayaan potensi anggota sekaligus sebagai pembinaan dan pengembangan aktif   
Kaderisasi akan gagal ketika potensi anggota mati dan anggota tidak terberdayakan.
4. Mengevaluasi dan melakukan mekanisme kontrol organisasi 
 Kaderisasi bisa menjadi evaluator organisasi terhadap anggota. Sejauh mana nilai-nilai itu terterima anggota, bagaimana dampaknya, dan sebagainya. (untuk itu semua, diperlukan perencanaan sumber daya anggota sebelumnya)
  
Aspek kaderisasi:
Kaderisasi haruslah holistik. Banyak aspek yang harus tersentuh oleh kaderisasi untuk menghasilkan kader yang ideal. Aspek tersebut adalah
1.      Fisikal (kesehatan)
 2.      Spiritual (keyakinan, agama, nilai) 
3.      Mental (moral dan etika, softskill, kepedulian) 
4.      Intelektual (wawasan, keilmuan, keprofesian) 
5.      Manajerial (keorganisasian, kepemimpinan) 
Dari setiap aspek, harus ada sinergi dan keseimbangan agar tiap aspek bisa menunjang aspek yang lainnya sehingga potensi si kader teroptimalisasi.

Bentuk kaderisasi: 
 1. Kaderisasi pasif
Kaderisasi pasif dilakukan secara insidental dan merupakan masa untuk kenaikan jenjang anggota. Pada momen ini, anggota mendapatkan pembinaan ‘learning to know’ dan sedikit ‘learning to be’. Pembinaan pasif sangat penting dan efektif dalam pembinaan dan penjagaan. 
2. Kaderisasi aktif
Yaitu kaderisasi yang bersifat rutin dan sedikit abstrak, karena pada kaderisasi ini, anggotalah yang mencari sendiri ‘materi’-nya. Pada momen ini, anggota mendapatkan pembinaan ‘learning to know’, ‘learning to do’, dan ‘learning to be’ sekaligus. Maka dalam hal ini sangat penting untuk dipahami, bahwa setiap rutinitas kegiatan, haruslah memberdayakan potensi anggota sekaligus menjadi bentuk pembinaan dan pengembangan aktif bagi anggota. Kaderisasi ini sangat baik dalam proses pembinaan, penjagaan, dan pengembangan secara sistematis.

Profil Kader:
Terkadang, orang-orang yang subjek kaderisasi (panitia) tidak memberi tahu kepada objek kaderisasi (peserta), kader yang seperti apa yang ingin dibentuk atau dicapai. Hal tersebut menyebabkan terjadi distorsi keberterimaan. Bisa jadi hal-hal penting yang diberikan tidak diterima oleh objek kaderisasi.
Tetapi itu masih lebih baik, dibanding tidak ada output kader yang ingin dicapai. Yang penting tujuan organisasi tercapai, atau yang lebih parah, yang penting ada kaderisasi. Profil kader termasuk ke dalam hal-hal yang harus disiapkan atau ditargetkan prakaderisasi. Profil ini bisa terkait dalam 4 hal (contoh saja):
1.      Berhubungan dengan diri si kader (pengembangan diri kader: wawasan, kemampuan)
2.      Berhubungan dengan organisasi (kader yang mau berkontribusi untuk organisasi)
3.     Berhubungan dengan masyarakat (kader yang bisa menjadi solusi bagi permasalahan bangsa)
4.     Berhubungan dengan basis organisasi (kader harus sesuai dengan basis organisasi, misal: keilmuan, keprofesian, minat, bakat)

Profil kader ini tidak hanya digunakan ketika kaderisasi yang bersifat insidental saja (event), tetapi juga kaderisasi berkelanjutan yang beriringan dengan aktivitas organisasi. Selain itu, tidak cukup hanya menjadikan calon kader menjadi objek kaderisasi. Sebaiknya kita juga ‘melakukan sesuatu’ kepada lingkungan atau suasana di sekitar calon kader agar lebih kondusif untuk mencapai profil-profil ini. Misal, pengkader harus telah mencapai profil si calon kader. Sehingga calon kader memiliki role model langsung (bisa terjadi percepatan pembelajaran).
***

Membangun Kaderisasi pada Organisasi Kampus
Membangun organisasi bukanlah sekadar mengikuti alur dan peranan Tuhan yang disebut takdir. Setiap orang tahu itu. Tapi tidak semua menjalankannya dengan sadar. Membangun organisasi layaknya merawat sebuah pohon, di mana ada tujuan akhir yang menjadi alasan organisasi ini masih berdiri, tujuan besar ini kemudian diejawantahkan dalam rencana-rencana jangka panjang, menengah dan pendek. Ada pelaku/subjek organisasi, lalu ada struktur yang jelas, metode kerja yang sesuai dengan organisasinya. Tentunya banyak sekali untuk menjelaskan filosofi organisasi, tapi yang ingin saya tuju adalah bahwa kesadaran akan visi dan misi organisasi inilah yang penting untuk membangun kapasitas organisasi yang lebih baik, dan tentunya berimbas pada kaderisasi setelah itu.
Visi dan misi sebuah organisasi yang jelas, akan berimbas pada pelaku (atau biasa disebut pengurus)-nya. Imbas inilah yang dicari, didambakan, diharapkan setiap pelaku organisasi. Misalnya ketika visi saya adalah membangun sebuah rumah, jelas orang yang membantu membangun rumah saya akan merasakan rumah yang megah nantinya, disamping pengerjaannya yang penuh canda tawa, kekeluargaan, kerja keras, pembelajaran pekerjaan atau sikap, soliditas, kebanggaan akan jabatan dan profesionalisme, bahkan tak ayal jika sesama pembangun rumah saling mengenal dan bisa bekerja sama di ladang yang lain. Imbas inilah yang saya sebut manfaat organisasi.
This is what peoples find in the campus. Mereka tidak dibayar dengan uang untuk bekerja, mengorbankan waktu belajar dan bermain hanya untuk berkutat dengan marketing call, atau proposal kegiatan yang ribetnya setengah mati. They are paid with experience, skill, self-development, and dignity of his/her organisation. Mereka berharap akan ada sesuatu yang tumbuh dari pengorbanan mereka selama ini. Mereka berharap ada jaringan yang didapat, pengalaman, dan keahlian yang diturunkan dari senior atau extraordinat-nya. Maka, manfaat pragmatis ini tidak bisa dianggap sepele.We need to explore it, and sell it to our ‘customer’.
Contoh riilnya yang saya alami adalah pada dua organisasi besar ini ternyata kalah dengan sebuah kepanitiaan (walau juga besar, scopenya nasional). Dengan jumlah staf yang mendaftar berjumlah 200 orang, kepanitiaan ini hanya menerima kurang lebih 50 orang untuk menjadi bagian dari tim tersebut. Masa kerja terhitung satu tahun kurang lebih, artinya tidak jauh berbeda dibandingkan organisasi struktural. Kemudian kita lihat totalitas, profesionalitas orang orangnya, saya pikir masih jauh lebih unggul kepanitiaan ini. Mengapa bisa demikian? Karena kepanitiaan ini telah belasan tahun terpercaya mendevelop orang-orang yang ada di dalamnya untuk bekerja secara profesional, on time, keahlian yang tinggi, fokus yang luar biasa, dengan tidak menghilangkan unsur-unsur kekeluargaan serta kedekatan personal. Ini yang satu benchmark yang saya pikir pantas untuk ditiru. Tujuan dan manfaat organisasi yang nyata dan terorganisir dengan baik merupakan kunci sukses dari capacity development dan suksesi yang lebih baik .
Pendek kata, jika organisasi terkenal baik, prestigeous, profesional, pastilah orang berbondong-bondong masuk. We need to develop  our internal capability, prove it with our work, sell the ‘product’  and let people know it and buy it. Suksesi yang lebih baik bukan sekadar keniscayaan.

Post-Gerakan Mahasiswa
REFORMASI 1998 yang digulirkan oleh gerakan mahasiswa secara serentak telah menorehkan tinta emas sejarah demokrasi di Indonesia. Gegap gempita keberhasilan gerakan mahasiswa disambut riuh dengan tumbuhnya demokrasi dan tumbangnya rezim orde baru.

Lalu bagaimana dengan gerakan mahasiswa sekarang?
Pascareformasi 1998, banyak kalangan menilai telah hilang arah gerakan dan perjuangan mahasiswa. Ada beberapa hal yang menyebabkan hilangnya perjuangan mahasiswa. Pertama, hilangnya daya kritis mahasiswa, karena mahasiswa kini disibukkan dengan pesta demokrasi prosedural kampus dan diperparah dengan konflik antar gerakan mahasiswa yang tak kunjung reda. Kedua, kuatnya budaya patronase serta afiliasi gerakan mahasiswa terhadap senior-senior mereka yang berada di pemerintahan, parpol, maupun LSM.
Meskipun demikian sepatutnya masyarakat tidak bersikap pesimis terhadap gerakan mahasiswa saat ini. Pasalnya, beberapa mahasiswa menyadari akan permasalahan krisis gerakan mahasiswa ini. Dan untuk keluar dari permasalahan ini mereka memilih pada jalur post-gerakan mahasiswa.
Term Post-gerakan mahasiswa merupakan analogisasi dari post-modernisme yang berarti tidak ada kaitan dan tanggung jawab terhadap modernisme tetapi kondisi melampaui modern. Begitu juga dengan Post-gerakan mahasiswa yang merevitalisasi arah perjuangan gerakan mahasiswa tanpa ada kungkungan senioritas serta purifikasi gerakan mahasiswa dengan basis intellektual kritis. Berbeda dengan neo-modernisme Post-gerakan mahasiswa merupakan gagasan pembaharuan terhadap gerakan mahasiswa engan mengkombinasikan beberapa ide.
Pertama, konsep intelektual organik Gramsci sebagai basis gerakan. Maksud intellektual organik adalah seorang aktifis yang bermanfaat terhadap masyarakat disekitarnya. Kedua, ideology kritis sebagai ideology gerakan. Serta militansi kuat terhadap intellektualitas dan kebenaran.
Peluang post-gerakan mahasiswa memang berat jika dihadapkan dengan gerakan mahasiswa mainstream. Tetapi, dengan munculnya komunitas-komunitas post-gerakan mahasiswa ini paling tidak mencoba untuk membangun pondasi awal demokrasi dari wilayah intellektual.
Seperti komunitas-komunitas diskusi dan kajian mahasiswa yang bermunculan di Ciputat. Beberapa komunitas post-gerakan mahasiswa tersebut misalnya: Piramida Circle, Formaci, eRSOUS, LS-ADI, Makar Institute, Senjakala, Forum KOPI, dll.

Peran Penting Kaderisasi dalam Memperkokoh Organisasi
Saya ingin mengawali tulisan ini dengan perkataan aristoteles di dalam bukunya yang berjudul La Politic bahwa setiap imperium yang tidak mampu memberikan pendidikan bagi generasi berikutnya maka tunggu saja waktunya imperium itu akan mengalami masa kehancuran. Begitu pentingnya pendidikan sehingga apabila kita berbicara pendidikan maka sama pentingnya dengan membicarakan keberlangsungan organisasi, imperium atau bentuk kumpulan manusia apa pun.
Sebuah negara hanya akan besar apabila negara tersebut memiliki sumber daya manusia yang berkualitas untuk berpartisipasi dalam jalannya roda kenegaraan. Tentu sumber daya manusia barulah mengalami kualifikasi ketika manusia-manusia-nya diberikan pendidikan yang baik pula. Pendidikan merupakan satu-satunya instrument untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, terlepas apa pun bentuk dan metodenya. Anggap saja kita diberikan hak untuk mengkategorikan mana saja negara-negara di dunia ini yang bisa diklasifikasikan sebagai negara maju, maka apa yang akan kita jadikan tolak ukur untuk menilainya? Kalau pembaca menanyakan kepada saya hal tersebut, tentu dengan segera saya menjawab bahwa pendidikan adalah tolak ukur utama apakah negara dapat dikatakan maju atau tidak.
Indonesia di dalam preamble UUD 1945 tegas diguratkan bahwa negara dibangun yakni salah satunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Juga dikatakan agar pemerintah mengalokasikan minimal 20% anggaran di dalam APBN sebagai bentuk realisasi pembangunan sumber daya manusia lewat pendidikan yang baik walau penganggaran saja tidaklah cukup tanpa disertai dengan pembenahan di sisi lainnya seperti infrastruktur, kualitas pengajar, kurikulum yang baik serta suasana hidup di lingkungan pendidikan tersebut. Mari kita sejenak bercermin kepada negara kecil yang kemajuannya sangat pesat di wilayah asia tenggara. Singapuara misalnya, negara ini seperti yang pernah dikatakan oleh Prof Goh Chor Boon Wakil Direktur NIE (National Institute of Education), salah satu lembaga pendidikan pemerintah terbesar di Singapura, yang mengatakan. “Kami tidak punya sumber daya alam, kami tidak punya tambang, kami hanya punya human resourses. Kalau kami tidak punya pendidikan yang baik maka kami tidak akan bertahan.” Penegasan ini, tampaknya bisa dilihat dari anggaran pendidikan Singapura kedua tertinggi setelah anggaran pertahanan. Data tahun 2003: anggaran pendidikan Singapura mencapai 27%, Malaysia 22% dan 2008 mencapai 26%, sementara Thailand 21%.  Malaysia yang dulu mengimpor guru Indonesia, telah jauh melesat. Dengan komposisi anggaran yang besar, pemerintahnya sukses menanggung beasiswa pelajar dan mahasiswa di luar negeri. Dan Singapura Si Negara Kota, mengaku telah melewati fase Pembangunan Landasan Riset dan Pengembangan sejak lama, yang ditandai salah satunya dengan pendirian Dewan Teknologi dan Sains Nasional tahun 1991.
Dalam konteks partai, kita juga bisa melihat pola pendidikan atau kaderisasi yang diterapkan untuk membangun kader-kader yang diharapkan menjalankan visi-misi partai. Lemahnya kaderisasi di dalam partai akan berdampak langsung terhadap melemahnya partai. Tanpa kader yang kuat tidak ada organisasi kokoh bisa terbentuk, begitu juga sebaliknya tanpa organisasi yang kokoh sulitlah melakukan kaderisasi yang baik. Sudah barang tentu kedua hal tersebut harus berjalan seiring layaknya mobil dan bensin dimana tanpa salah satu maka keduanya tidak akan bermakna apa-apa.
Saya ingin mengajak pembaca untuk sedikit bersantai ria bercerita tentang film three hundreds (300) yang mengisahkan tentang perjuangan 300 pejuang spartan yang mempertahankan tanah air dari serangan bangsa luar. Kita tidaklah perlu mempersoalkan apakah hal tersebut benar-benar pernah terjadi atau tidak, karena saya hanya bermaksud untuk menstimulir kita dalam berimajinasi tentang kaderisasi. Lihatlah film tersebut, bangsa spartan hanya menggunakan 300 pejuang dalam peperangan melawan ribuan musuh-musuhnya dengan senjata yang lengkap. Apa yang membuat pejuang-pejuang tersebut mampu mengimbangi musuh dalam peperangan tersebut. Kita bisa melihat mereka memiliki strategi yang kuat, strategi yang membaca dan memanfaatkan medan peperangan dengan baik demi keuntungan barisannya. Mereka juga memiliki kedisiplinan gerakan dan ketaatan komando serta koordinasi yang baik antar setiap personil sehingga formasi-formasi barisan dengan mudah dibentuk dan memang benar-benar kokoh. Kedisiplinan dan militansi benar-benar terlihat dan merasuki setiap jiwa pejuang tersebut, terlebih film ini menggambarkan nyawa dari keberanian pejuang-pejuang tersebut yakni rasa cinta mereka terhadap tanah air dan bangsa yang kita kenal dengan nasionalisme. Itulah yang menjadi nyawa dari keberanian para pejuang-pejuang sparta.
Baiklah kita tafikan sejenak persoalan fantasi film yang barusan kita bicarakan, mari kita sejenak memperhatikan realita kehidupan yang terjadi di dunia ini. Ketika kita terlahir ke dunia ini, kita langsung dihadapkan pada alam dimana kita harus beradaptasi dan berinteraksi dengan segala sesuatu di luar kita. Kita yang tadinya tidak bisa berbahasa kemudian perlahan diberikan sentuhan linguistik oleh pertama-tama ibu, lalu oleh lingkungan sekitar, sampai kita mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, tadinya yang kita hanya bisa terbaring kemudian mampu untuk berjalan bahkan berlari, awalnya kita minum asi kemudian kita bisa memakan nasi. Saya menceritakan ini agar pembaca melihat realitas terdekat bahwa sesungguhnya kita dari sejak lahir hingga saat ini telah mengalami perkembangan diri, sekali lagi saya katakan apapun cara dan media yang membuat kita berkembang tidaklah begitu saya persoalkan, karena itu relatif, namun hal terpenting yang mau sampaikan bahwa proses perkembangan tersebut bisa kita katakan kaderisasi dalam konteks luas. Atau lebih ekstrim lagi, seluruh proses kehidupan yang ada di dunia ini apapun bentuknya, disadari atau tidak, bila kita pandang dari segala perspektif merupakan bentuk kaderisasi. Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan yang pernah dilontarkan oleh bapak pendidikan nasional KI HAJAR DEWANTARA bahwa semua adalah guru, dan setiap tempat adalah perguruan.
Marilah sedikit kita persempit konteks pembicaraan kita dalam lingkup organisasi. Tidak perlu saya jelaskan lebih panjang terkait apa itu organisasi? Dan kenapa pembahasannya harus dibedakan dengan komunitas atau kumpulan-kumpulan lain. Cukuplah kita mengetahui bahwa organisasi merupakan sekumpulan orang yang memiliki tujuan (cita-cita) dan akan kita capai dengan langkah-langkah tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia-manusia yang ada di dalamnya diberi aturan-aturan demi pendisiplinan mencapai tujuan.
Kenapa begitu penting kita harus menata kaderisasi di tubuh organisasi? Ini yang harus kita jawab dengan lantang dan tegas agar kita memiliki arah dalam mengarungi samudra pemakanaan terhadap satu kata yakni kaderisasi. Di atas telah kita ulas bahwa organisasi memiliki tujuan. Bagaimana tujuan itu dapat tercapai apabila sekumpulan orang tersebut tidak memahami secara utuh apa tujuannya dan bagaimana langkah-langkah mencapai tujuan. Lalu apakah ketika mereka tahu secara utuh tentang tujuan dan langkah-langkah mencapai tujuan dengan sendirinya kita akan mau bergerak mewujudkan cita-cita organisasi? Kemauan mensyaratkan adanya semangat, dan tentulah mereka yang ada di organisasi harus dibangkitkan semangatnya untuk merealisasikan tujuan organisasi. Kita andaikan saja semua orang di dalam tubuh organisasi telah memiliki semangat dan kemauan untuk mengimplementasikan tujuan, saya kemudian bertanya sekali lagi, apakah setelah mereka memiliki pengetahuan tentang tujuan, semangat untuk mencapai tujuan, dan mau untuk mencapai tujuan itu dengan sendirinya kita akan melakukan pergerakan? Saya tegaskan belum tentu. Kita harus melihat variabel resiko di dalamnya. Setelah mereka tahu, semangat dan mau dan kemudian mereka dihadapkan kepada resiko-resiko tertentu, mungkin timbul kebimbangan untuk bergerak di jalan yang sudah ditentukan. Oleh karena itu tahap mau haruslah dirubah menjadi tahapan bertindak atau bergerak dan hal tersebut mensyaratkan adanya pengorbanan.

Mungkin pembaca menganggap hal diatas adalah pembahasan yang biasa-biasa saja dan dirasa kurang penting. Tapi saya ingin tegaskan persoalan ini bukanlah persoalan yang sederhana namun membutuhkan usaha yang super berat dalam membangunnya. Ucapan saya seirama dengan apa yang telah diucapkan oleh bung karno ketika dia berbicara di depan rakyat tentang tahapan-tahapan itu. Apa tahapan-tahapan itu? Tahapan itu dalam konteks nasional dikumandangkan bung karno dengan peristilahan national spirit meningkat menuju national will hingga mencapai nasional daad. Berulang-ulang kali beliau menyampaikan itu kepada rakyat bukan sekedar jargon tetapi hal tersebut mengindikasikan betapa besar usaha yang diperlukan untuk membangunnya.



Read More